You are currently viewing Pure Wrath angkat cerita genosida Indonesia 1965 melalui “Hymn To The Woeful Hearts”
Januaryo Hardy

Pure Wrath angkat cerita genosida Indonesia 1965 melalui “Hymn To The Woeful Hearts”

Pure Wrath dibentuk pada tahun 2014 di Jawa Barat, Indonesia merupakan salah satu proyek In The Soul-stirring atmospheric Black Metal dari seorang multi-instrumentalis Januaryo Hardy.

Fixed Artwork 2K

Kelanjutan dari EP sebelumnya yang berjudul “The Forlorn Soldier”. Pure Wrath merilis album penuh ke-3 yang berjudul “Hymn To The Woeful Hearts” adalah eksplorasi terluka dan emosional, Kesedihan abadi yang mendalam dirangkum secara epik di album ini.
Di album ini Pure Wrath berkolaborasi dengan drumwork yang enerjik yaitu Yurii Kononov (ex-White Ward), di album ini Pure Wrath memberikan warna Deepest & Gelap. Berhasil menyeimbangkan lolongan kemarahan dengan nyanyian himne yang sangat menyedihkan, sound gitar yang kejam, suara synth yang pedih dan permainan akustik yang menggugah. Album ini kali ke-2 Pure Wrath berkolaborasi dengan pianis Dice Midtyanti dari Restless & Victorian.

“Album ini di dedikasikan untuk seorang wanita tua, seorang ibu dan penyintas tragedi genosida di Indonesia pada tahun 1965. Selain masalah politik, kehilangan putranya dalam masa tuduhan, pembersihan dan konflik ideologis yang memberinya trauma yang mendalam dan hasrat untuk balas dendam. Putranya diculik secara brutal, disiksa dan kemudian dipenggal secara brutal dan ditemukan mengambang di sungai sebelum dikuburkan dengan layak. Selama lebih dari 50 tahun ibunya harus berpura-pura bahwa semuanya normal dalam setiap kesedihannya, hidup di bawah bayang-bayang para pelaku yang masih berkuasa. Melihat mata mereka yang tidak mempunyai rasa bersalah namun hatinya selalu di hantui rasa bersalah”

Januaryo Hardi menjelaskan tentang album ini.

Multi-instrumentalis dan sekaligus komposer Januaryo Hardy juga menceritakan tentang konsep album ini melalui illustrasi / sampul album:

“Kehilangan orang yang dicintai itu menyakitkan, terutama jika mereka meninggal secara tragis. Selama lebih dari lima puluh tahun, seorang ibu harus melawan semua dorongan balas dendam sambil ditinggalkan dengan pertanyaan yang tak ada habisnya. Sekali lagi, Aghy Purakusuma (illustrator) dengan sempurna menerjemahkan cerita yang menyat hati, menggambarkan perjuangan ibu selama bertahun-tahun hidup berbahaya di bawah bayang-bayang tiran. Untuk berdiri di atas kakinya yang lemah dan berjalan melalui sisa tahun-tahun tergelap dalam hidupnya, membiarkan semua kenangan akan rumah yang dia sebut ‘keluarga’ terbakar menjadi abu. Album ini menggambarkan salah satu dari ratusan kisah tragis yang mungkin belum pernah diceritakan atau diangkat ke permukaan, dengan harapan bagi generasi baru untuk membuka mata mereka dan mencari keadilan.”

“Hymn to the Woeful Hearts” akan dirilis pada 18 Februari 2022 & pre-order melalui Debemur Morti Productions pada 3 Desember 2021.

Leave a Reply